Lelap dalam lelah, aku memejamkan mata. Sejenak kegelapan membuatku tak lama kehilangan kesadaran. Namun kemudian timbul bayangan-bayangan yang nampak semakin lama semakin jelas, dan kemudian semakin terang.
Dan bayangan itu muncul dalam bentuk bentangan sawah, hutan, gunung, sungai dalam teriknya cahaya matahari, semakin kupandang semakin jelas bahwa ini adalah alam pedesaan di kaki sebuah gunung, yang damai, asri namun entah, jauh berbeda dari yang pernah aku temui. Tak ada sama sekali tanda-tanda kemajuan jaman yang makin membuat manusia jaman sekarang terlena larut dalam buaian kemudahan
Sejenak bayangan itu menambahkan detail-detail yang makin nyata, dengan adanya lalu lalang manusia yang anehnya mengenakan pakaian sederhana, ternak dan sesekali pedati yang lalu lalang di jalanan yang terbentang beralaskan batu batu kali yang kecil kecil. Dimanakah aku? entahlah. Suasana di sini begitu tenang dan damai. Jauh dari ramainya kota, tidak ada listrik, tidak ada bangunan permanen, sesekali kulihat hanya bangunan kayu dan kayu.. yang begitu sederhana dengan bentuk yang sebagian besar rumah panggung disangga oleh batu persegi.
Kuteruskan perjalananku, sampai akhirnya kulihat seorang kakek tua, berjanggut putih, memegang tongkat dan mengenakan pakaian sederhana, secarik kain yang disampirkan ke tubuhnya. Ia balas memandangiku, heran dan bertanya "Siapa engkau? dan dari manakah?"
Tak segera kujawab pertanyaan itu, namun nampaknya dia sudah faham, menghela nafas dan kemudian duduk dan berkata "kemarilah!"
"jauh benar perjalananmu cucuku!" perkataan ini sungguh menghentak hatiku, siapakah orang tua ini yang semudah itu memanggilku cucu, namun kuanggap sekedar panggilan orang tua kepada yang lebih muda. Aku berujar, "Dari... " namun segera dipotongnya "Cukup!, yang kausebutkan belumlah tiba saatnya untuk diucapkan". Heran benar aku dengan perkataanya.. apa maksudnya ? apa yang dimaksud dengan belum saatnya ?. "Dalam lelap, engkau melintasi masa, melalui alur-alur sejarah yang kaupelajari, dan aku adalah kilasan dari masa lalu sebelum engkau memiliki kesadaran" jelasnya
"Sekarang ceritakanlah yang terjadi di masamu!" perintah kakek itu. Dengan heran kuceritakan bahwa di masaku yang tentunya sekedar pengalamanku perihal menuntut ilmu, islam, adat dan budaya, serta hal hal lain yang membedakan situasi di sekitar tempat tinggal kakek ini dengan tempatku.
"Hmmm, sungguh aneh, barusan engkau menyebut tradisi? kemudian Islam ? kemudian kemajuan Zaman? bagaimana engkau hidup dengan menjalani ketiganya ? "
Kukatakan sekedar pemahamanku bahwa tradisi adalah warisan budaya peninggalan leluhurku, Islam adalah Agama yang dianutku, dan Kemajuan Zaman adalah hasil Pemikiran Di masa ku yang berbuah, peralatan, alur pekerjaan, dan kemudahan lain yang semakin mempermudah kehidupan"
Kakek itu sesekali menggelengkan kepala, sesekali mengangguk, sesekali pula tersenyum dan tak jarang terheran-heran. Betapa ceritaku mengenai peralatan masa kini yang membuatnya heran, jenjang pendidikan yang kutempuh membuatnya tersenyum, ceritaku mengenai islam membuatnya mengangguk dan ceritaku mengenai tradisi membuatnya menggelengkan kepala. Hingga pada saat aku selesai bercerita kakek itu
memejamkan mata, menghela nafas dan kemudian berkata dengan suara yang berat
"Ketahuilah cucuku" katanya,"Tradisi atau adat yang kausebut itu tidak lebih dari kebiasaan kami dalam hidup, tidak ada arti yang lebih dari itu" lanjutnya. "Kami yang tidak mengenyam pendidikan belajar dari orang tua kami, belajar dari kakek nenek kami, dan kadang kami tambah kurangkan sesuai apa yang kami temukan dalam hidup kami, saudaraku yang melaut akan berbeda gaya hidupnya dengan yang bertani, saudara kami yang berkecimpung dalam tata pemerintahan di kotapraja berbeda dengan saudara kami yang hidup di pedesaan. Masing-masing memiliki aturan sendiri yang dijunjung oleh masing masing, ditularkan dan ditalarkan sesuai kebutuhan"
"Memang ada sebagian kami yang menganggap adat atau tradisi itu sebagai jalan menghormati leluhur dan tuhan sendiri sehingga menjalankannya mendatangkan rahayu atau keselamatan. Namun pada dasarnya karena kami tidak mengenal jalan lain dalam hidup yang harus kami jalankan selain yang kami dapati dari nenek moyang kami"
"Ingatkah bahwa manusia lahir tanpa dibekali pengetahuan apa-apa. Sehingga apa yang kami dapati dari orang tua kami jadi bekal kami dalam menjalani hidup, itulah yang engkau lihat. Jika nampak padamu perbedaan-perbedaan cara hidup, itu karena sebagaimana orang tua kami mengajari kami"
"Bahwa kemudian engkau menjunjung tinggi tradisi sungguh membuatku menggelengkan kepala, sadarkah engkau, bahwa sebagaimana kami, engkau kelak menjadi leluhur dari keturunanmu?" lanjutnya kemudian "Berarti dalam hal tradisi, hakmu sama dengan hak kami, engkau berhak mengubah tradisi yang menurutmu baik di masamu!!"
"Mengenai Islam, yang kausebut sebagai agama, jauh benar kalau didasari dari kata a (tidak) dan gama (kacau), sedikit pun tidak mendekati, dan hanya menyentuk kulitnya saja. Menurutku berasal dari kata AGEMAN, yang berarti pakaian, pegangan, petunjuk, atau pedoman. Apakah dalam keislaman dunia tidak timbul kekacauan ? katamu masih!!, maka ageman sebagai kata asalnya lebih mendekati, sebagai sesuatu yang mesti kaupakai sebagai pegangan, petunjuk, dan pedoman.
"Dan belumlah tiba waktunya bagi kami untuk memegang petujuk itu. Kami sudah mengenal Tuhan, tapi Allah ? agaknya belum tiba wakil-wakil dari utusan Allah kepada kami. Namun hendaklah engkau mengikutinya!. Betapa beruntungnya engkau, kami susah payah memohon petunjuk padaNya dengan samadhi, dengan merenungi perjalanan hidup kami, dengan mendengarkan cerita kakek nenek kami, engkau tinggal mempelajari dan mengikutinya, tidak ada yang lebih baik dari petunjukNya"
"Sedangkan perkembangan jaman, jangan sampai mengikis nilai nilai kemanusiaan yang kaupegang. Itulah yang terpenting, perkembangan zaman selalu ada bahkan dari masa kami ini walaupun sedikit-perubahannya dalam bentuk paugeran yang ditetapkan oleh tetua adat kami. Untuk menjadikannya sesuatu yang terus menerus dipegang, malah akan membuat zamanmu goyah, beriring dengan perseteruan dan sengketa karena satu dengan yang lain bertahan dengan prinsip masing masing"
"Sungguh mengherankan, aku benar-benar takjub, bahwa di masamu orang dapat bercakap-cakap dari jarak yang jauh. Bahwa orang mampu mengamati permukaan bumi dengan teknologi, apa? satelit? penginderaan jarak jauh ? ha ha ha... Bahkan apa-apa yang ada di sekitar kami seringkali luput dari perhatian kami"
"kembalilah cucuku, jalani hidupmu... renungi langkahmu, dan ambil pelajaran darinya!!". Itulah kata-kata terakhirnya. Kemudian kakek itu berdiri, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah yang tak dapat kulihat isinya, gelap. Tak lama aku , bangun, dan kembali merenung... entah, sekali lagi semalam bagaikan berhari2 bagiku, apakah sekedar stimulus otak yang mensimulasikan suatu peristiwa, atau ada yang
mengirimnya untukku ? begitu dalamnya terbekas dalam pikiran...
To be continued ??? Wallahu Alam........
Sunday, May 21, 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)