Seringkali anggapan orang mengenai fanatisme adalah mempertahankan nilai-nilai dan kebiasaan dengan terlalu kaku dan berlebihan dimana salah satu aturan yang menjadi sasaran anggapan mengenai fanatisme adalah penerapan nilai-nilai islami yang disesuaikan dengan ajaran Rasulullah SAW, disamping cara pandang terhadap budaya non islami.
Dalam hal ini orang akan dianggap fanatik jika terlalu menolak terhadap perubahan budaya, baik itu budaya asing maupun tradisi yang tidak sesuai dengan tuntunan islam seperti halnya musik, mode, dan gaya hidup yang bertahan sesuai dengan tradisi atau mengikuti budaya barat yang mengarah kepada kebebasan berekspresi
Tanpa disadari, dibalik anggapan tersebut, pada dasarnya terdapat suatu fanatisme tersendiri yang, dapat dikatakan mengagungkan tradisi atau budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya islam yang dalam hal ini tradisi dianggap sebagai warisan leluhur sedangkan budaya barat adalah bagian dari modernisasi yang tidak terelakkan.
Mengenai tradisi, yang merupakan warisan pendahulu kita, tidak berarti tradisi tidak dapat dirubah. Yang perlu diingat adalah sekedar, bahwa kita pun suatu saat menjadi leluhur keturunan kita, apa yang akan kita wariskan pada mereka? nilai2 luhur atau sekedar kebiasaan dan gaya hidup yang sesuai dengan keinginan kita? Nampak bahwa mempertahankan tradisi pada dasarnya suatu fanatisme juga, sehingga kita punya peluang untuk membentuk tradisi tersendiri sesuai ajaran islami
Mengenai budaya barat, mode merupakan kebiasaan modern, yang pada dasarnya merupakan bentuk dari arus perubahan yang cepat seiring dengan adanya trend setter manusia, namun perlu diingat identitas masing-masing bangsa adalah berbeda-beda. Dan sikap meniru-niru hanya sekedar akan menunjukkan bahwa kita memiliki identitas yang dapat dikatakan lemah. Dan dalam hal ini sangat sedikit nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya
Fanatisme yang terselip di sini adalah suatu bentuk fanatisme terhadap kebebasan. Dan dalam hal ini fanatisme terhadap kebebasan menyebabkan seseorang sangat anti bahkan alergi terhadap nilai-nilai yang baku, seakan tanpa celah-celah "berekspresi". Namun ekspresi di sini umumnya bukan semata kreasi yang orisinil, melainkan sekedar kebebasan dalam meniru-niru budaya sesuai keinginan atau sekedar trend. Disini nampak bahwa jika ada keinginan, dan peluang untuk menjadi trendsetter dalam mengenakan pakaian yang islami maka mulailah berpenampilan islami
Dan pada akhirnya, dalam setiap nilai terdapat aturan-aturan juga, baik itu nilai tradisional maupun nilai modern, misalnya aturan memakai pakaian tradisional misalnya aturan corak batik yang digunakan, aturan sanggul, jenis blangkon yang digunakan, maupun aturan menggunakan pakaian "masa kini " yang trendy seperti dress code, color matching, aksesori yang pas dan lain-lain. Sehingga akhirnya juga berujung pada suatu tatanan tertentu yang tanpa sadar dengan teguh diikuti
Semangat yang mesti diingat oleh kaum muslim dalam menentukan style yang digunakan adalah, agar dapat dibedakan dengan non muslim, agar terhindarkan darinya pikiran untuk berbuat maksiat, kepadanya sesama muslim dapat mengucapkan salam, mengajaknya shalat, mengingatkannya saat melakukan kesalahan, karena mengenalinya sebagai sesama muslim. Hal ini justru seringkali dapat ditemui pada penganut agama lain yang memakai simbol-simbol agamanya, sehingga dengan mudah dikenali, kenapa justru yang merasa muslim tidak melakukannya juga?
Saturday, July 22, 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)